Mengenal Beberapa Konfigurasi Dari Mesin Sepeda Motor

Mengenal Beberapa Konfigurasi Dari Mesin Sepeda Motor – Dalam sebuah kendaraan bermotor tentunya ada juga yang namanya mesin. Berfungsi sebagai alat penggerak dan juga pusat pemrosesan dari sebuah kendaraan motor. Kita kalian istilahkan pada organ manusia, mesin pada motor adalah jantungnya. Karena motor tidak mungkin bisa hidup jika tidak ada mesin di dalamnya. Tentunya kofigurasi mesin ini memiliki faktor penting untuk kendaraan bermotor.

Mengenal Beberapa Konfigurasi Dari Mesin Sepeda Motor

info lainnya : thetasa

Karena banyaknya produsen-produsen motor, dan juga canggihnya teknologi seputar otomotif, tentunya membuat sepeda motor ini menjadi lebih berkembang. Merekapun berlomba-lomba untuk memproduksi mesin motor yang mempunyai konfigurasi yang terbaik tentunya. Pada setiap mesin motor juga pasti memiliki suara yang berbeda. Seperti halnya motor matic dan juga motor gede atau moge, pasti memiliki suara yang berbeda. Matic terdengan lebih adem, sedangkan moge lebih berisik dan juga gahar. Semua itu karena mesin yang digunakan tentunya.

Kali ini akan ada pembahasan untuk kalian bagi yang kurang tau seputar mesin motor. Boleh banget kalian simak nih.

Beberapa Konfigurasi Mesin Motor

1. Mesin 1 Silinder (Horizontal/Vertikal/Diagonal)

Mesin ini sangat familiar di Indonesia. Pasalnya banyak sepeda motor di pasaran yang menggunakan mesin ini. Dikatakan mesin 1 silinder lantaran hanya memiliki 1 piston. Kebanyakan mesin 1 silinder memiliki kapasitas mesin di bawah 250 cc. Tapi tak jarang pula mesin dengan kapasitas lebih yang menganut sistem ini. Kawasaki KLR 650 keluaran tahun 2007 menggunakan 1 silinder meskipun berkapasitas 650 cc. KTM juga menganut sistem ini untuk Duke 690 cc.

Mesin 1 silinder yang kerap ada dan masuk klasifkasi kembali menjadi 3, horizontal (tidur), vertikal atau tegak, dan miring. Mesin horizontal dapat kita jumpai pada produk sepeda motor bebek, seperti Honda Revo, Yamaha Jupiter, dan Suzuki Shogun. Sedangkan untuk mesin vertikal terdapat pada sepeda motor seperti, Honda CB 100, Suzuki Thunder 125, dan Yamaha Byson. Untuk mesin diagonal bisa kita jumpai pada Honda Sonic, Suzuki Satria, dan Yamaha Vixion.

Mesin ini memiliki perawatan yang mudah. Selain itu memiliki torsi yang besar. Tak jarang pula ada sepeda motor trail dengan kapasitas besar menggunakan 1 silinder saja. Getaran yang dihasilkan cukup terasa dan semakin keras pada mesin berkapasitas di atas 250 cc.

Meskipun memiliki torsi yang  cukup baik, mesin jenis ini memiliki catatan buruk pada urusan top-speed. Sayangnya pada mesin dengan posisi tidur, menghasilkan torsi yang tidak sebesar mesin vertikal meskipun berkapasitas sama. Namun mesin tidur lebih mudah untuk penguasaannya dari pada ketika bermanufer.

2. Mesin 2 Silinder Segari (In-Line Twin / Parallel Twin)

Banyak sepeda motor berkapasitas di atas 200 cc yang menggunakan mesin 2 silinder. Kita dapat menjumpai jenis mesin ini pada sepeda motor seperti, Kawasaki Ninja 250, Yamaha R25, dan Suzuki Inazuma. Bahkan pabrikan asal Jerman, BMW, menggunakan sistem ini pada F 800 GS.

Mesin ini memiliki power yang besar namun tidak terdapat kesulitan dalam perawatannya. Torsi yang dihasilkan cukup merata pada setiap putaran (rpm). Begitu pula dengan getaran mesin, cukup merata pada putaran bawah, tengah, dan atas.

3. Mesin 2 Silinder V-Twin

Mesin ini memiliki 2 silinder yang menyerupai huruf “V”. V Twin sangat ikonik dan mudah untuk kalian kenali, terlebih pada motor buatan Amerika Serikat, Harley Davidson. Hampir seluruh sepeda motor yang diproduksi di negeri Paman sam tersebut menggunakan Sistem ini.

Hal itu bukan berarti negara Eropa tidak menganut sistem ini. Pabrikan motor asal Italia, Ducati dan Aprilia juga menerapkan sistem V Twin. Pada Ducati terdapat pada beberapa line-up adventurenya seperti Hypermotard dan Hyperstrada. Sementara pada Aprilia tertanam pada produk seperti Aprilia Pegaso 750 dan Dorsoduro 750.

Yang membedakan ketiganya adalah sudut yang memisahkan kedua mesin tersebut. H-D memiliki sudut paling sempit da ketiganya berkisar pada 30 derajat. Sementara Aprilia memisahkan dua silinder miliknya sejauh kurang lebih 60 derajat. Pada Ducati terdapat jarak lebih dari 90 derajat dari kedua silender miliknya dan cenderung membentuk huruf “L”.

Mesin ini menghasilkan getaran yang tinggi, terlebih pada H-D. Namun getaran tersebut bisa diminamilisir dengan berbagai teknologi. Suara yang dihasilkan berbeda dengan 2 silinder in-line. Yang menjadi kekurangan adalah torsi yang terlalu liar dan center of gravity atau pusat grafitasi motor berada di titik yang cukup tinggi.

4. Mesin 2 Silinder Berlawanan / Boxer

Masih dari line up 2 silinder, kali ini kedua piston berada pada posisi saling membelakangi. Bentuknya sangat khas karena terdapat 2 head silinder dalam posisi horisontal. Mesin ini identik dengan pabrikan asal Jerman, BMW. Tentunya komponen ini banyak terlihat ditopang oleh rangka BMW dengan seri R, seperti R 1200 GS, R Nine T, dan R 1300 R.

Mesin ini mudah untuk diajak bermanuver karena memiliki titik grafitasi yang rendah. Torsi yang dihasilkan relatif tinggi dan tenaga yang disalurkan tidak terlalu liar sehingga mudah dikuasai. Selain tidak mudah panas, mesin boxer juga memiliki suara yang halus meskipun ber-cc besar.

5. Mesin 2 Silinder V-Twin Melintang

Sulit memang membayangkan bagaimana bentuk mesin ini karena jarang beredar di Indonesia. Mesin ini berbentuk “V” seperti produk H-D, tetapi melebar. Mesin ini unik karena hanya menempel pada sasis Moto Guzzi. Sepeda motor asal Italia tersebut memiliki cylinder-hear yang menyembul pada sisi kanan-kirinya. Sangat mudah mengenali mesin jenis ini karena ciri khas dimensi tersebut.

Getaran mesin yang dihasilkan cenderung keras namun berbeda dengan mesin 2 silinder yang lain. Selain itu, mesin ini memiliki distribusi tenaga yang halus. Sama halnya dengan mesin boxer, karena berada luar rangka, mesin ini tidak cepat panas. Namun tenaga yang dihasilkan cenderung lebih rendah jika dibanding dengan mesin 2 silinder lain dan pusat gravitasi terletak pada titik yang cukup tinggi.